Warga Pati Dijemput Polisi Karena Kuras Cashback Toko Online Ratusan Juta

Posted on

J&T dan Bukalapak menderita kerugian hingga ratusan juta rupiah. Lantaran memanipulasi sistem elektronik dengan akun-akun bodong miliknya untuk mendulang cashback karena ulah Seorang pria berusia 30 tahun asal Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Kapolres Pati atas nama AKBP Arie Prasetya Syafaat mengatakan bahwa tersangka MI melakukan tindak pidana manipulasi informasi elektronik dan menyebabkan pihak J&T serta Bukalapak merugi hingga Rp245.985.000. Sementara atas perbuatannya itu, MI berhasil meraup duit diatas Rp50.000.000 dari Cashback 15% dari J&T.


iklan banner

“Dia memanfaatkan mekanisme yang ada di Bukalapak. Di mana dari satu daerah itu free ongkir dan pihak J&T juga memberikan fasilitas kepada member VIP dengan cashback sebesar 15% dari total barang pengiriman. Sehingga dari total tagihan, ia mengapatkan cashback hingga nominal Rp52.500.000 dari J&T yang langsung ditransfer ke rekening tersangka,” ujarnya, Jumat (18/6).

 Guna memuluskan bisnis haramnya itu, MI sengaja membuat lima akun reseller bodong dengan nama toko Rumah Herbal Pati. Uniknya di toko tersebut menjual produk-produk yang jauh lebih murah dibandingkan produk serupa. Selain membuat toko bodong, MI juga beternak akun-akun lain yang berperan sebagai pembeli dari tokonya sendiri.

“Toko online fiktif di Bukalapaknya itu menjual produk-produk yang sangat murah, misalnya kopi sachet dijual hanya Rp100. Akun toko palsu ini kemudian dibeli sendiri oleh tersangka sendiri. Jadi dia yang menjual, dia pula yang membeli,” jelasnya.

Karena terdaspat perbedaan data antara Bukalapak dan J&T atas toko online pelaku. Terang Arie, kedua perusahaan tersebut kemudian melakukan audit dari total biaya ongkos kirim sebesar Rp349.321.000 yang diklaimkan oleh J&T kepada Bukalapak.

Sementara itu juga dari Bukalapak hanya tercatat Rp103.336.000 berdasarkan alamat toko online pelaku. Imbasnya J&T merugi sebesar Rp245.985.000.

“Ada sebanyak 13.000 resi pengiriman yang menumpuk di J&T Tuban dan Kediri [Jawa Timur]. Dia mengirim barang dari Kecamatan Tayu [Pati], tapi di sistem dia membuat akun toko dan penjual fiktif, seolah akun tokonya berada di Tuban dan Kediri, pembelinya pun dari daerah tersebut [Tuban dan Kediri]. Namun kenyataannya dia kirim dari Tayu. Padahal perhitungan riilnya jika ongkir dari Pati ke Kediri itu sebesar 24.000-an,” beber Arie. Atas perbuatannya, MI dijerat Pasal 51 Junto Pasal 35 UU ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Sumber : gatra.com